Ajimat Saudagar Pesugihan Putih Nusantara

Termaharkan...

Amulet jimat Nusantara yang biasa dipakai para Saudagar, terbuat dari campuran beberapa logam penarik Rejeki dalam berusaha maupun berdagang. Sejarah ekonomi Indonesia terbentuk atas lokasi geografisnya yang terletak diantara persilangan samudera dan benua dunia. Sumber daya alam yang melimpah berupa hasil tani dan bumi serta penduduk yang tinggal dipenjuru kepulauan yang membentuk dasar dari perkembangan Negara Indonesia. 

Munculnya kontak dengan perdagangan internasional melalui mitra asing yang datang untuk berdagang juga ikut berperan penting dalam perkembangan Indonesia berupa kedatangan pedagang dari India, China, Arab dan Eropa yang ikut mengeksplorasi rempah-rempah. 


Nusantara sejak lama dikenal akan melimpahnya sumber daya alam; seperti rempah-rempah berupa pala dan cengkih dari Maluku, merica dan kemukus dari Sumatra Selatan dan Jawa Barat, beras dari Jawa, emas, tembaga dan timah dari Sumatra, Kalimantan dan pulau-pulau di antara, kamper resin dari pelabuhan Barus, sappan dan kayu cendana dari Kepulauan Nusa Tenggara, kayu dari Kalimantan, gading dan badak tanduk dari Sumatra dan eksotis bulu burung dari Indonesia timur adalah beberapa produk yang dicari oleh para pedagang di seluruh dunia. Secara teknis, kontak asing dimulai ketika pada abad ke-4 dimana kerajaan kecil nusantara yang menerima kedatangan pedagang dari India. 


Seiring dengan perkembangan, datanglah para pedagang-pedagang lain dari daratan Benua Asia lainnya seperti dari Arab dan China. Lokasi nusantara yang strategis diantara rute perdagangan India dan China serta rute perdagangan maritim yang terus berkembang menjadikan nusantara tumbuh sebagai salah satu kekuatan ekonomi dan politik yang berpengaruh dikawasan berupa lahirnya Kerajaan Sriwijaya yang mulai berkembang pada abad ke-7 menjadi kerajaan kosmopolitan berbasis perdagangan. 


Kerajaan Sriwijaya berkembang dengan pesat menjadi Kerajaan utama yang mengendalikan 2 jalur perdagangan utama antara India dan Cina, yaitu melalui Selat Sunda dari Palembang dan selat Malaka dari Kedah. Dalam suatu catatan dari pedagang Arab, catatan tersebut menyatakan bahwa luasnya wilayah kerajaan yang begitu besar bahkan membuat kapal tercepatpun tidak mampu untuk bisa berpergian mengelilingi semua pulau-pulau yang menghasilkan kamper, gaharu, cengkih, kayu cendana, pala, kapulaga dan cubebs, gading, emas, dan timah, kekayaan masing-masing pulau menjadikan kerajaan ini bisa memiliki kekayaan setara dengan raja yang ada di India. 


Selain membina hubungan perdagangan dengan India dan Cina, Sriwijaya juga didirikan hubungan dagang dengan Kerajaan di Jazirah Arab. Terdapat sebuah kemungkinan besar, seorang utusan dikirim oleh Maharaja Sri Indrawarman untuk menyampaikan surat perkenalan kepada Khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Kekhalifahan Umayyah pada tahun 718 Masehi. Surat tersebut kembali bersama dengan Zanji (budak wanita dari Zanj), sebagai hadiah dari Khalifah untuk maharaja yang menjadi pertanda baik dibukanya hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan Kekhalifahan Umayyah. Hal ini diperkuat dengan adanya berita dari China yang menyebutkan tentang seorang yang bernama Shih-li-t-'o-pa-mo (Sri Indravarman), Maharaja dari Shih-li-fo-shih pada tahun 724 mengirimkan hadiah kepada kaisar berupa ts'engchi (Cina ejaan bahasa arab Zanji). 

Sriwijaya mendominasi kekuatan ekonomi dan politik dikawasan tersebut hingga berakhirnya pada abad ke-13. Dalam Kakawin Nagarakretagama, Majapahit yang terkenal menarik para pedagang asing dari jauh seperti dari India, Khmer, Siam, dan China untuk berdagang di Majapahit. Sementara di periode selanjutnya, dalam berita China yang berjudul Yingyai Shenglan disebutkan bahwa sebagian besar dari pedagang China dan pedagang-pedagang Muslim dari barat (tepatnya Arab dan India, sebagian besar dari kerajaan Muslim di Sumatra dan Semenanjung malaya) menetap di kota-kota pelabuhan Majapahit, seperti Tuban, Gresik dan Hujung Galuh (Surabaya). Pajak dikenakan terhadap beberapa orang asing, seperti mereka yang membuka usaha dan melakukan kegiatan perdagangan luar negeri. 

Kerajaan Majapahit memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan China dinasti Ming, Annam dan Champa, Kamboja, Siam Ayutthayan, Burma Martaban dan India selatan (Wijayanagara). Anehnya walaupun diduga ajimat ini dipakai sebagai alat pembayaran pada Era Jaman Sriwijaya atau Majapahit tapi logam ini tidak berkarat. 

Sehingga tidak heran pada jaman dahulu bangsa Nusantara sudah mengusai perkonomian karena kepercayaan mereka kepada hal-hal Mistik maka kebanyakan masyarakat Nusantara sangat mudah untuk hidup minimal berkecukupan bahkan kaya raya tanpa berkerja keras, cukup di tanah kelahirannya. 

Namun semenjak hal-hal mistik dibilang sesat maka ajimat untuk pesugihan, kerejekian, dll dibilang sesat sehingga kebanyakan pada akhirnya Rakyat Nusantara menjadi budak di Negeri sendiri karena hilangnya budaya tradisi leluhur mereka.

Saat ini mereka yang tetap merawat warisan leluhurnya maka hidupnya tetap makmur menjadi generasi juragan di Negeri sendiri selama mau pasti bisa.

Dipercaya untuk: 
∆ Meningkatkan Kerejekian Baik usaha dan Karir 
∆ Call Customer / Meningkatkan Pelanggan 
∆ Mempererat Hubungan Kerja dan Bisnis. 
∆ Money Magnet 
∆ Mudah dan Dipercaya oleh Atasan dan Rekan Kerja serta Customer

Related product you might see:

Share this product :

Post a Comment

 
Support : Sitemap | Sitemap Atom | Sitemap Feed
Copyright © 2016. Kabbalah Satanic - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger